AJARKAN AKU SHALAT
Oleh : Rima Aryandini
Hangatnya mentari pagi seakan melambai ke segala penjuru, tak terkecuali para murid yang juga ikut merasakan keramahannya.
Semua orang tentunya mempunyai kesegaran dan semangat yang melengkapi pagi hari, terkecuali dia.
Rinda.
Gadis urakan, dengan rambut yang kumal nampak tak pernah menyentuh sisir selama beberapa hari.
Wajahnya yang cantik namun tak terlihat menarik karena kusam yang memenuhi seluruh permukaan wajah, tubuhnya tinggi semampai, tapi baju yang ia kenakan tak pernah terlihat pantas dan rapih.
"Kamu gak mandi ya, Rin?"
Ia menggeleng seraya menatap tihang bendera yang berdiri dengan tegap.
"Uhmm ... " Yuni mempersempit lubang hidungnya dengan pijatan kedua jari.
"Yuni! Kamu masuk!"
Keduanya menoleh saat guru BK yang menghukum mereka melangkah ke arah lebih dekat.
"Kok, hanya saya?"
"Sudah, masuk!" wanita berjilbab segi empat itu menunjuk ruangan kelas yang seharusnya mereka pijak sedari tadi.
Yuni melirik sahabatnya, sedangkan Rinda asyik mengunyah permen karet yang nampak keputihan.
"Hey! Kamu! Makan apa?"
"Makan orang," ketusnya.
"Yuni, masuk! Rinda, hukumanmu saya tambah! Bersihkan area wudhu mushola sekolah, sekarang!"
"What?" Rinda melotot.
"Aku masuk ya, Rin?" tanya Yuni ragu, khawatir dengan sahabatnya yang satu ini.
"Sana-sana! Makasih ya udah nemenin,"
"Yuni! Ayo masuk!"
"I-iya, Bu." masih dengan ragu, ia melangkah sedikit cepat, meninggalkan kedua gadis yang sama-sama mempunyai tubuh semampai.
"Kenapa masih diam di sana? Ayo, bersihkan area wudhu mushola!"
Rinda mendesis, terpampang kemalasan di wajah cantiknya, "apapun asal jangan mushola, Bu cantik," katanya menggoda.
"Kenapa? Karena kamu tak percaya Tuhan?"
"Itu Ibu tahu!"
Wanita bernama Atika itu menggeleng, seraya melemparkan pandangan aneh ke anak didik yang satu ini.
"Bersihkan sekarang! Jangan buang-buang waktu saya, atau kamu saya scors!
Rinda menghela napas lemah, dengan terpaksa ia menurut, ancaman terakhir guru BK sedikit menakutkan.
Jika aku tak bisa sekolah, tempat mana lagi yang harus ia datangi untuk melepaskan segala kerumitan di otaknya.
Dengan tatapan tajam, Atika memandangi Rinda melenggang ke area mushola, senyumnya mengembang karena berhasil membuat anak itu menurut.
"Guru aneh! Mana yang harus aku bersihin?" Rinda celingak-celinguk memandangi sekeliling.
"Ah, ini saja!" Dia mengambil selang yang melingkar dan tergeletak persis di depan pintu area wudhu, lalu dengan cekatan gadis itu memasangkannya ke keran.
Swurrr
Dengan asyiknya ia membasahi setiap sudut tempat muslim untuk bersuci.
Karena saking panjangnya selang yang ia gunakan, Rinda juga membasahi lantai mushola, membuat siapapun yang menginjaknya pasti akan terpeleset.
"Masya Allah ... " pemuda yang baru saja menyelesaikan shalat sunnat dhuhanya menangkap kelakuan Rinda di luar sana.
"Hey! Jangan!" cegahnya saat Rinda sudah mulai membasahi dinding dan jendela mushola.
Anak itu seperti kerasukan sesuatu, dengan santai sambil cekikikan ia nampak puas membasahi seluruh area mushola.
"Hey! Anda tidak mendengar saya? Jangan lakukan itu!"
Rinda menoleh, tatapannya tajam menghujam relung hati, "kalau gak mau ikut bersihin jangan ikut campur!"
Pemuda itu menggeleng, dengan cepat ia menggulung ujung celananya sampai ke tengah betis, lalu dengan hati-hati ia mendekat, hendak merampas selang tersebut dari tangan gadis yang tak lain muridnya sendiri.
"Hey! Cacingan! Gak usah ikut campur! Mau aku semprot?" Rinda melotot seraya menjauhkan selangnya dari Fahri, pengajar yang paling muda di antara yang lain.
Fahri menggeleng lagi, "silakan lanjutkan," katanya pelan dan sopan.
Rinda menyeringai, lalu kembali melanjutkan aksinya.
"Ya Allah," gumam Fahri saat gadis itu mulai menyemprotkan isi selang ke dalam mushola.
Buru-buru ia menggapai keran yang menghubungkan air ke dalam selang tersebut.
Klik!
Ia memutarnya, membuat air itu berhenti dari aktifitasnya.
Rinda menoleh, alisnya bertaut menjadi satu saat menangkap basah Fahri mematikan kerannya.
"Dasar! Guru sok tahu!"
Setelah meletakkan selang begitu saja, Rinda berkacak pinggang seraya melangkah dengan cepat, hendak memberi pelajaran pada guru yang mengganggu kesenangannya.
Brak!
Dengan tiba-tiba ia jatuh terduduk di atas ubin yang licin dan penuh genangan air.
Rinda terkena batunya.
"Aw ... " ia meringis sambil memegangi pinggangnya yang nyeri.
Dengan sigap Fahri mendekat, seraya terus menyebut asma Allah ia mencoba membantu Rinda untuk berdiri.
"Jangan bantu aku! Dasar guru mesum!"
"Masya Allah, ayo berdiri, atau seragammu akan basah!"
"Seragamku memang sudah basah!" pekiknya sambil menunjuk rok abunya yang panjang.
Benar saja, ia seperti setengah tenggelam.
Kericuhan keduanya menarik perhatian penghuni kelas yang berdekatan dengan mushola.
Sontak beberapa siswa dan pengajarnya ke luar.
"Pak Fahri, ada apa ini? Eh, Ya Allah! Rinda?"
"Ah ... ini Pak, anak ini siram area mushola sampai banjir," Pak Fahri menunjuk ke sekeliling.
Rinda tak peduli, kali ini ia mencoba berdiri, namun pinggangnya benar-benar terasa sakit.
"Rinda! Apa-apaan kamu ini!" dari balik kerumunan para murid, suara Atika kembali menggema.
Rinda hanya mendecak, kali ini hukumannya pasti bertambah berat.
Hari yang sial!
***
"Andai saja Umi punya menantu, mungkin akan ada yang bantuin masak,"
Fahri tersenyum tipis, ia tak menjawab melainkan menambahkan nasi ke atas piring.
"Kalau Fahri menikah, Fahri akan pergi meninggalkan Umi dan Abi,"
"Lho, kok pergi? Tinggal saja di sini bersama kami, betul begitu kan, Bi?" wanita paruh baya itu menoleh suaminya.
"Terserah Umimu saja," jawabnya dengan suara berat.
"Tapi, Bi ... Fahri itu sudah hampir 27 tahun, sudah pantas membina rumah tangga,"
"Ya kalau belum ketemu jodohnya, mau bagaimana, Mi?"
Fahri hanya menggeleng-geleng seraya tersenyum geli mendengarkan perdebatan lembut di antara kedua orang tuanya.
"Coba saja, kalau Fahri mau ngelamar Rum," Uminya terus berkicau sambil menuangkan orek tempe kesukaannya.
"Sudahlah, Umi. Perasaan itu tidak bisa dipaksakan, kalau mereka memang jodoh, nanti juga akan menikah,"
"Iya, Abi ... Umi hanya tidak sabar."
Fahri tersenyum lagi, bukannya ia tak ingin, tapi memang cinta di hatinya itu belum tumbuh untuk gadis cantik nan shaleha bernama Rumaisa.
Semoga saja, Allah menghendakinya bersama Rum dengan membalikkan hatinya yang terasa beku.
***
Di lain tempat, kehangatan keluarga Fahri tak bisa dirasakan seorang gadis semampai nan kumal.
Harinya selalu dihabiskan dengan sekolah, mengunyah permen karet seraya bermain game, atau mendengarkan musik rock dengan kencang.
"Rinda, ayo makan sayang,"
Gadis itu menoleh ke ujung pintu, dengan gusar ia memutar volume tape miliknya, membuat seisi kamar dipenuhi nyanyian tak karuan.
"Masya Allah," wanita anggun itu menutup pintu.
"Kenapa?"
"Ah! Mas mengagetkan aku saja,"
"Suara apa itu? Rinda!"
"Mas, sudah!" wanita itu menahan dada suaminya yang hampir maju ke depan bersamaan dengan langkah kaki.
"Jangan kasar pada Rinda, dia hanya butuh perhatian, tugas kita hanya menasehatinya dengan lembut,"
"Kamu terlalu baik, Hilya! Anak itu memang harus aku pukul!"
"Mas, sudah! Islam sama sekali tidak mengajarkan kekerasan untuk dalam mendidik anak-anak,"
Pria berbadan tegap itu bergeming, memandang istrinya yang mempunyai tatapan teduh.
"Terima kasih, Hilya. Sudah menerimaku dan mencintaiku juga anak-anak,"
Wanita berkhimar panjang itu tersenyum, lalu mengelus dada suaminya dengan sayang.
"Biar nanti aku yang akan mengantarkan makanan ke kamar Rinda, sekarang kita makan saja berdua, kamu pasti sudah lapar."
Hilya tersenyum, mengangguk menyetujui saran suaminya.
"Dasar! Sok baik! Dia pikir dia bisa sembunyi di balik kain panjangnya itu! Cih, aku muak!" Rinda yang sedari tadi menguping di cela pintu, membanting vas bunga yang berada di atas laci.
Hari-harinya memang tak pernah dipayungi kesejukkan, hanya amarah yang menguasai relung hatinya.
***
"Rin ... apa kamu gak keterlaluan?"
"Sudahlah, Yun! Jangan banyak bicara!" Rinda menepuk-nepuk kedua telapak tangannya.
"Sudah beres!" Ia cekikikan melihat roda sepeda motor milik Fahri kempes karena ulahnya.
"Cabut!" Rinda melenggang menuju pintu gerbang, menunggu di samping jalan raya, ingin melihat penderitaan orang yang juga membuatnya merasakan nyeri di sekujur tubuh.
"Rin, tapi yang salah itu kamu, kenapa harus buat banjir mushola?"
"Lho, kok kamu malah ngebelain dia?"
"Tapi kenyataannya begitu, Rin!"
"Alah ... kalau kamu emang gak mau temenan sama aku, sana pergi aja! Lagian kamu ngedeketin aku, supaya aku ngikut-ikut agama kamu itu, kan?" Rinda melotot.
"Terserah kamu ya, Rin! Aku cuma kasihan aja lihat kamu gak punya kawan," jawabnya sambil membenarkan kerudung putihnya yang tertiup angin.
"Guru alim itu datang! Hahaha, sukurin!"
Fahri memang terlihat mendorong sepeda motornya dengan kepayahan, berbeda dengan Rinda yang tertawa puas, Yuni malah merasa iba.
Ia berdoa dalam hati, semoga Allah memaafkan temannya.
"Hai, Pak alim!" Rinda melambaikan tangannya dengan rendah saat Fahri melewati dirinya.
Fahri berhenti bersama jadul yang ia dorong, "kamu menyapa saya?"
"Iya! Siapa lagi? Motornya kempis, ya?"
"Hmm," Fahri kembali mendorongnya.
"E-eh, tunggu, Pak! Aku tahu loh, siapa yang kempisin ban motor Bapak," katanya songong.
"Kamu, iya kan?"
Rinda memonyongkan bibir, "Ih! Enak aja, masa iya aku? Ngerti aja enggak!"
"Terus, siapa?"
"Uhmm ... ada syaratnya kalau Bapak mau tahu!"
Fahri menggeleng, ia merasa membuang-buang waktu.
"Saya tidak peduli dan saya tidak mau tahu, biarlah Allah yang balas jika memang ada orang yang sudah membuat roda motor saya kempis,"
"Ya ampun! Bener nih, gak mau tahu?"
Fahri mengembuskan napasnya, lalu kembali menengok.
"Baiklah, siapa? Dan apa syarat yang kau ajukan barusan?"
Rinda tersenyum lebar, membuat gigi gingsulnya terlihat jelas.
"Syaratnya ... "
Rinda menggantung kalimat, seolah tidak yakin dengan dirinya sendiri.
"Nikahi saya, Pak! Dan ... ajarkan saya shalat!"
Mata Fahri membelalak, bagaimana bisa gadis sekaligus murid yang terkenal bengal ini meminta dia untuk menikahinya.
"Kok melotot? Apa kurang jelas? Kurang sopan? Saya sudah pakai bahasa baku, loh! Jarang-jarang saya panggil diri sendiri dengan sebutan saya, iya gak, Yun?" Rinda menyenggol sahabatnya yang juga ikut menganga.
Fahri mengusap wajahnya, lalu menggeleng dan kembali mencoba meninggalkan gadis aneh itu.
"Pak! Pak!" kaki jenjang Rinda melangkah lebih cepat, mengejar Fahri yang hampir tertelan persimpangan jalan.
"Pak! Saya mohon, Pak! Nikahi saya! Saya ingin belajar shalat, saya ingin masuk islam, Pak!"
"Tapi kenapa harus menikah dengan saya?" Fahri merasa gila.
"Karena ... karena saya ingin punya suami, Pak!"
"Kamu masih sekolah! Kalau mau belajar kita belajar sama-sama di kelas!" pekik Fahri.
"Beberapa bulan lagi saya lulus kan, Pak? Jadi saya ingin menikah dengan Bapak! Titik."
Fahri menggeleng, memegang kepalanya yang terasa pening.
"Nanti kita bicarakan lagi, sepertinya hari ini kamu belum minum obat."
Fahri kembali membelakangi Rinda, gadis itu hanya mendecak sebal sambil meninju tanah dengan kakinya yang terbalut sepatu.
"Rin, kamu ..."
"Ah!" Rinda seakan tak peduli siapapun, dengan gusar ia meninggalkan Yuni yang mulutnya masih terlihat menganga.
Bersambung...
Oleh : Rima Aryandini
Hangatnya mentari pagi seakan melambai ke segala penjuru, tak terkecuali para murid yang juga ikut merasakan keramahannya.
Semua orang tentunya mempunyai kesegaran dan semangat yang melengkapi pagi hari, terkecuali dia.
Rinda.
Gadis urakan, dengan rambut yang kumal nampak tak pernah menyentuh sisir selama beberapa hari.
Wajahnya yang cantik namun tak terlihat menarik karena kusam yang memenuhi seluruh permukaan wajah, tubuhnya tinggi semampai, tapi baju yang ia kenakan tak pernah terlihat pantas dan rapih.
"Kamu gak mandi ya, Rin?"
Ia menggeleng seraya menatap tihang bendera yang berdiri dengan tegap.
"Uhmm ... " Yuni mempersempit lubang hidungnya dengan pijatan kedua jari.
"Yuni! Kamu masuk!"
Keduanya menoleh saat guru BK yang menghukum mereka melangkah ke arah lebih dekat.
"Kok, hanya saya?"
"Sudah, masuk!" wanita berjilbab segi empat itu menunjuk ruangan kelas yang seharusnya mereka pijak sedari tadi.
Yuni melirik sahabatnya, sedangkan Rinda asyik mengunyah permen karet yang nampak keputihan.
"Hey! Kamu! Makan apa?"
"Makan orang," ketusnya.
"Yuni, masuk! Rinda, hukumanmu saya tambah! Bersihkan area wudhu mushola sekolah, sekarang!"
"What?" Rinda melotot.
"Aku masuk ya, Rin?" tanya Yuni ragu, khawatir dengan sahabatnya yang satu ini.
"Sana-sana! Makasih ya udah nemenin,"
"Yuni! Ayo masuk!"
"I-iya, Bu." masih dengan ragu, ia melangkah sedikit cepat, meninggalkan kedua gadis yang sama-sama mempunyai tubuh semampai.
"Kenapa masih diam di sana? Ayo, bersihkan area wudhu mushola!"
Rinda mendesis, terpampang kemalasan di wajah cantiknya, "apapun asal jangan mushola, Bu cantik," katanya menggoda.
"Kenapa? Karena kamu tak percaya Tuhan?"
"Itu Ibu tahu!"
Wanita bernama Atika itu menggeleng, seraya melemparkan pandangan aneh ke anak didik yang satu ini.
"Bersihkan sekarang! Jangan buang-buang waktu saya, atau kamu saya scors!
Rinda menghela napas lemah, dengan terpaksa ia menurut, ancaman terakhir guru BK sedikit menakutkan.
Jika aku tak bisa sekolah, tempat mana lagi yang harus ia datangi untuk melepaskan segala kerumitan di otaknya.
Dengan tatapan tajam, Atika memandangi Rinda melenggang ke area mushola, senyumnya mengembang karena berhasil membuat anak itu menurut.
"Guru aneh! Mana yang harus aku bersihin?" Rinda celingak-celinguk memandangi sekeliling.
"Ah, ini saja!" Dia mengambil selang yang melingkar dan tergeletak persis di depan pintu area wudhu, lalu dengan cekatan gadis itu memasangkannya ke keran.
Swurrr
Dengan asyiknya ia membasahi setiap sudut tempat muslim untuk bersuci.
Karena saking panjangnya selang yang ia gunakan, Rinda juga membasahi lantai mushola, membuat siapapun yang menginjaknya pasti akan terpeleset.
"Masya Allah ... " pemuda yang baru saja menyelesaikan shalat sunnat dhuhanya menangkap kelakuan Rinda di luar sana.
"Hey! Jangan!" cegahnya saat Rinda sudah mulai membasahi dinding dan jendela mushola.
Anak itu seperti kerasukan sesuatu, dengan santai sambil cekikikan ia nampak puas membasahi seluruh area mushola.
"Hey! Anda tidak mendengar saya? Jangan lakukan itu!"
Rinda menoleh, tatapannya tajam menghujam relung hati, "kalau gak mau ikut bersihin jangan ikut campur!"
Pemuda itu menggeleng, dengan cepat ia menggulung ujung celananya sampai ke tengah betis, lalu dengan hati-hati ia mendekat, hendak merampas selang tersebut dari tangan gadis yang tak lain muridnya sendiri.
"Hey! Cacingan! Gak usah ikut campur! Mau aku semprot?" Rinda melotot seraya menjauhkan selangnya dari Fahri, pengajar yang paling muda di antara yang lain.
Fahri menggeleng lagi, "silakan lanjutkan," katanya pelan dan sopan.
Rinda menyeringai, lalu kembali melanjutkan aksinya.
"Ya Allah," gumam Fahri saat gadis itu mulai menyemprotkan isi selang ke dalam mushola.
Buru-buru ia menggapai keran yang menghubungkan air ke dalam selang tersebut.
Klik!
Ia memutarnya, membuat air itu berhenti dari aktifitasnya.
Rinda menoleh, alisnya bertaut menjadi satu saat menangkap basah Fahri mematikan kerannya.
"Dasar! Guru sok tahu!"
Setelah meletakkan selang begitu saja, Rinda berkacak pinggang seraya melangkah dengan cepat, hendak memberi pelajaran pada guru yang mengganggu kesenangannya.
Brak!
Dengan tiba-tiba ia jatuh terduduk di atas ubin yang licin dan penuh genangan air.
Rinda terkena batunya.
"Aw ... " ia meringis sambil memegangi pinggangnya yang nyeri.
Dengan sigap Fahri mendekat, seraya terus menyebut asma Allah ia mencoba membantu Rinda untuk berdiri.
"Jangan bantu aku! Dasar guru mesum!"
"Masya Allah, ayo berdiri, atau seragammu akan basah!"
"Seragamku memang sudah basah!" pekiknya sambil menunjuk rok abunya yang panjang.
Benar saja, ia seperti setengah tenggelam.
Kericuhan keduanya menarik perhatian penghuni kelas yang berdekatan dengan mushola.
Sontak beberapa siswa dan pengajarnya ke luar.
"Pak Fahri, ada apa ini? Eh, Ya Allah! Rinda?"
"Ah ... ini Pak, anak ini siram area mushola sampai banjir," Pak Fahri menunjuk ke sekeliling.
Rinda tak peduli, kali ini ia mencoba berdiri, namun pinggangnya benar-benar terasa sakit.
"Rinda! Apa-apaan kamu ini!" dari balik kerumunan para murid, suara Atika kembali menggema.
Rinda hanya mendecak, kali ini hukumannya pasti bertambah berat.
Hari yang sial!
***
"Andai saja Umi punya menantu, mungkin akan ada yang bantuin masak,"
Fahri tersenyum tipis, ia tak menjawab melainkan menambahkan nasi ke atas piring.
"Kalau Fahri menikah, Fahri akan pergi meninggalkan Umi dan Abi,"
"Lho, kok pergi? Tinggal saja di sini bersama kami, betul begitu kan, Bi?" wanita paruh baya itu menoleh suaminya.
"Terserah Umimu saja," jawabnya dengan suara berat.
"Tapi, Bi ... Fahri itu sudah hampir 27 tahun, sudah pantas membina rumah tangga,"
"Ya kalau belum ketemu jodohnya, mau bagaimana, Mi?"
Fahri hanya menggeleng-geleng seraya tersenyum geli mendengarkan perdebatan lembut di antara kedua orang tuanya.
"Coba saja, kalau Fahri mau ngelamar Rum," Uminya terus berkicau sambil menuangkan orek tempe kesukaannya.
"Sudahlah, Umi. Perasaan itu tidak bisa dipaksakan, kalau mereka memang jodoh, nanti juga akan menikah,"
"Iya, Abi ... Umi hanya tidak sabar."
Fahri tersenyum lagi, bukannya ia tak ingin, tapi memang cinta di hatinya itu belum tumbuh untuk gadis cantik nan shaleha bernama Rumaisa.
Semoga saja, Allah menghendakinya bersama Rum dengan membalikkan hatinya yang terasa beku.
***
Di lain tempat, kehangatan keluarga Fahri tak bisa dirasakan seorang gadis semampai nan kumal.
Harinya selalu dihabiskan dengan sekolah, mengunyah permen karet seraya bermain game, atau mendengarkan musik rock dengan kencang.
"Rinda, ayo makan sayang,"
Gadis itu menoleh ke ujung pintu, dengan gusar ia memutar volume tape miliknya, membuat seisi kamar dipenuhi nyanyian tak karuan.
"Masya Allah," wanita anggun itu menutup pintu.
"Kenapa?"
"Ah! Mas mengagetkan aku saja,"
"Suara apa itu? Rinda!"
"Mas, sudah!" wanita itu menahan dada suaminya yang hampir maju ke depan bersamaan dengan langkah kaki.
"Jangan kasar pada Rinda, dia hanya butuh perhatian, tugas kita hanya menasehatinya dengan lembut,"
"Kamu terlalu baik, Hilya! Anak itu memang harus aku pukul!"
"Mas, sudah! Islam sama sekali tidak mengajarkan kekerasan untuk dalam mendidik anak-anak,"
Pria berbadan tegap itu bergeming, memandang istrinya yang mempunyai tatapan teduh.
"Terima kasih, Hilya. Sudah menerimaku dan mencintaiku juga anak-anak,"
Wanita berkhimar panjang itu tersenyum, lalu mengelus dada suaminya dengan sayang.
"Biar nanti aku yang akan mengantarkan makanan ke kamar Rinda, sekarang kita makan saja berdua, kamu pasti sudah lapar."
Hilya tersenyum, mengangguk menyetujui saran suaminya.
"Dasar! Sok baik! Dia pikir dia bisa sembunyi di balik kain panjangnya itu! Cih, aku muak!" Rinda yang sedari tadi menguping di cela pintu, membanting vas bunga yang berada di atas laci.
Hari-harinya memang tak pernah dipayungi kesejukkan, hanya amarah yang menguasai relung hatinya.
***
"Rin ... apa kamu gak keterlaluan?"
"Sudahlah, Yun! Jangan banyak bicara!" Rinda menepuk-nepuk kedua telapak tangannya.
"Sudah beres!" Ia cekikikan melihat roda sepeda motor milik Fahri kempes karena ulahnya.
"Cabut!" Rinda melenggang menuju pintu gerbang, menunggu di samping jalan raya, ingin melihat penderitaan orang yang juga membuatnya merasakan nyeri di sekujur tubuh.
"Rin, tapi yang salah itu kamu, kenapa harus buat banjir mushola?"
"Lho, kok kamu malah ngebelain dia?"
"Tapi kenyataannya begitu, Rin!"
"Alah ... kalau kamu emang gak mau temenan sama aku, sana pergi aja! Lagian kamu ngedeketin aku, supaya aku ngikut-ikut agama kamu itu, kan?" Rinda melotot.
"Terserah kamu ya, Rin! Aku cuma kasihan aja lihat kamu gak punya kawan," jawabnya sambil membenarkan kerudung putihnya yang tertiup angin.
"Guru alim itu datang! Hahaha, sukurin!"
Fahri memang terlihat mendorong sepeda motornya dengan kepayahan, berbeda dengan Rinda yang tertawa puas, Yuni malah merasa iba.
Ia berdoa dalam hati, semoga Allah memaafkan temannya.
"Hai, Pak alim!" Rinda melambaikan tangannya dengan rendah saat Fahri melewati dirinya.
Fahri berhenti bersama jadul yang ia dorong, "kamu menyapa saya?"
"Iya! Siapa lagi? Motornya kempis, ya?"
"Hmm," Fahri kembali mendorongnya.
"E-eh, tunggu, Pak! Aku tahu loh, siapa yang kempisin ban motor Bapak," katanya songong.
"Kamu, iya kan?"
Rinda memonyongkan bibir, "Ih! Enak aja, masa iya aku? Ngerti aja enggak!"
"Terus, siapa?"
"Uhmm ... ada syaratnya kalau Bapak mau tahu!"
Fahri menggeleng, ia merasa membuang-buang waktu.
"Saya tidak peduli dan saya tidak mau tahu, biarlah Allah yang balas jika memang ada orang yang sudah membuat roda motor saya kempis,"
"Ya ampun! Bener nih, gak mau tahu?"
Fahri mengembuskan napasnya, lalu kembali menengok.
"Baiklah, siapa? Dan apa syarat yang kau ajukan barusan?"
Rinda tersenyum lebar, membuat gigi gingsulnya terlihat jelas.
"Syaratnya ... "
Rinda menggantung kalimat, seolah tidak yakin dengan dirinya sendiri.
"Nikahi saya, Pak! Dan ... ajarkan saya shalat!"
Mata Fahri membelalak, bagaimana bisa gadis sekaligus murid yang terkenal bengal ini meminta dia untuk menikahinya.
"Kok melotot? Apa kurang jelas? Kurang sopan? Saya sudah pakai bahasa baku, loh! Jarang-jarang saya panggil diri sendiri dengan sebutan saya, iya gak, Yun?" Rinda menyenggol sahabatnya yang juga ikut menganga.
Fahri mengusap wajahnya, lalu menggeleng dan kembali mencoba meninggalkan gadis aneh itu.
"Pak! Pak!" kaki jenjang Rinda melangkah lebih cepat, mengejar Fahri yang hampir tertelan persimpangan jalan.
"Pak! Saya mohon, Pak! Nikahi saya! Saya ingin belajar shalat, saya ingin masuk islam, Pak!"
"Tapi kenapa harus menikah dengan saya?" Fahri merasa gila.
"Karena ... karena saya ingin punya suami, Pak!"
"Kamu masih sekolah! Kalau mau belajar kita belajar sama-sama di kelas!" pekik Fahri.
"Beberapa bulan lagi saya lulus kan, Pak? Jadi saya ingin menikah dengan Bapak! Titik."
Fahri menggeleng, memegang kepalanya yang terasa pening.
"Nanti kita bicarakan lagi, sepertinya hari ini kamu belum minum obat."
Fahri kembali membelakangi Rinda, gadis itu hanya mendecak sebal sambil meninju tanah dengan kakinya yang terbalut sepatu.
"Rin, kamu ..."
"Ah!" Rinda seakan tak peduli siapapun, dengan gusar ia meninggalkan Yuni yang mulutnya masih terlihat menganga.
Bersambung...
Komentar
Posting Komentar